Tuesday, 29 July 2014

the essence of 'listen to your heart, just do what you want, what you like'

01:09 Posted by dede No comments
haloo..
Happy Eid Mubarak 1435 H :) *today is Eid Mubarak of 2014! yay!*

I'm glad to be here again. So many things happened these last seven months! It's so hard to believe that 2014 had already reach it's peak.. But here's the post that I really want to spill. The results that conclude all of the things I've been worried about. I still haven't found the right answer, but at least I already sprout the root. Just got to find out how to rise it *geez what am I talking about*

Let's get started.
Jujur. Aku agak buruk dalam hal mengambil keputusan penting. Penyebabnya ya ga lain ga bukan karena kadang aku terlalu malas buat mikir berat *anak macam apa ini*. Selama ini, aku melakukan hal atas dasar 'pilih itu aja ah, kelihatannya keren!' atau 'aku ga mau pilih itu, terlalu mainstream' tanpa benar-benar paham dampaknya.
Salah satu korbannya adalah pilihanku dalam hal memilih topik tugas akhir.. Aku dengan pedenya udah memutuskan mau milih topik 'penerapan teknologi game' sejak beberapa semester sebelumnya. Alasannya? 'Karena keren' *facepalm*
Aku cuma bisa membayangkan 'aku bakal terus berusaha, belajar!'. Tapi yg terjadi adalah 'aduh malesnya.. dou shiyo kana? akirameteeee!'. Semuanya karena ga dipersiapkan dengan baik dan saya belum bisa nerima resiko dari keputusan yg saya ambil.

The case is...
Sering banget kan ada yg bilang 'just do what you want. it's all your life'. I'm not really into that phrase... umm.. it sounds kinda selfish.
Tapi gimana kalo kita ga tau apa yg seharusnya kita lakukan? Yang kita tau cuma 'aku pengen melakukan itu'. Ya, lakukanlah, tapi jadilah orang yg bertanggung jawab. Maksudnya, pastikan itu adalah hal yg ga merugikan orang-orang yg sudah mendukung kita.

Ada satu lagu, dari band kesukaan saya *ehm*, yang liriknya membuat saya berfikir lebih dalam tentang prinsip 'lakukan apapun yg kamu suka'. Kira-kira liriknya begini *ehm* :

"
instead of worrying 'I can't see what's ahead', let's get excited with what's waiting there for us'
instead of brooding over 'I got nothing', let's get thrilled with 'what am I capable of?'
instead of agonizing over 'what's the right thing to do', just gently ask yourself 'what do I want to do?'
"

Lirik yg terakhir, kalo ga diresapi dengan baik *tsahh*, bisa-bisa salah persepsi. In my humble opinion, of course you have to do something right. Just when you found out what's right for you, when you get thrilled with what's waiting for you ahead, and when you sure about what you're capable of, you're able to describe what do you want to do. That's why you have to 'gently ask yourself' *am I right, Momiken-san? please correct me if I wrong XD*

As for me, 'lakukan apapun yang kamu suka' itu bukan berarti melakukan sesuatu sesuka hatimu. Pikirkan lagi, apa yang benar-benar kamu sukai, apa tujuan yang benar-benar ingin kamu capai.
Misalnya, kalo boleh dicontohkan dengan keadaan saya sekarang, sudah waktunya untuk memikirkan apa yang harus saya lakukan setelah lulus kuliah nanti. Sekarang boleh aja saya mikir 'aku ga mau kerja kantoran. Aku maunya kerja di tempat yg nyantai bla bla bla. Aku ga mau kerja di bidang bla bla bla soalnya itu susah..' and so on.. Tapi siapa yang tau kalo suatu saat nanti itu justru jalan yang harus kita ambil? Apa udah punya back-up rencana kalo semuanya berjalan tidak sesuai harapan?
Dari luar, mungkin kita bisa dengan mudah mengungkapkan apa yang kita inginkan, dengan kriteria ini-itu, dengan detail ini-itu. Tapi apa kamu benar-benar menginginkan itu, setelah kamu memikirkan resikonya, setelah kamu memperjuangkannya agar orang-orang disekitarmu menerima keputusanmu?

Sebelumnya, untuk urusan tugas akhir, aku ga pernah nanya pendapat orang tua. Langsung aja kerjain sesuka hati, meskipun susah. Itu resiko yang harus aku tanggung, karena menganggapnya sebagai 'itulah hal yang aku inginkan'.
Setelah cerita-cerita ke ayah tentang tugas akhir, ayah kasih komentar 'wah pasti nanti hasilnya bagus.. tapi jangan terlalu idealis'. Ayah sempat khawatir kalo aku ga kuat menyelesaikan. Meskipun gitu, aku lanjutkan semuanya, there's no way back, that's what I chose. Melawan rasa malas untuk belajar sana-sini, dengan berbekal semangat karena membayangkan gimana jadinya kalo semuanya selesai dengan baik dan aku bisa wisuda.. Sampe akhirnya aku lulus dan ayah pun lega :D. Setelah diusut-usut, ternyata ayah khawatir bukan karena ga percaya sama kemampuanku, tapi karena ayah merasa ga bisa bantu.. bukan bidangnya beliau :".

Mikirin itu, aku jadi sadar. Aku emang punya kriteria ini-itu untuk masa depanku. Aku punya banyak tempat yang ingin kutuju. Aku punya keterbatasan ini-itu yang harus kuhindari cuma karena takut itu akan merugikan aku. Aku bisa dengan gamblang menyebutkan list apa hal yang aku 'inginkan'. Tapi itu semua cuma kulit luarnya aja. Setelah aku sadari, hal yang benar-benar aku inginkan adalah sesuatu yang lebih sederhana, tapi jauh lebih dalam, yaitu 'ngebahagiain orang tua, membuat mereka tenang dengan keputusanku tentang masa depan'. Caranya? Dengan jadi lebih terbuka, ceritakan apa yg kamu ingin lakukan, sampaikan dengan sebaik-baiknya, lalu sesuaikan dengan cara yang mereka sarankan. Yah, itu semua tergantung sifat orangtuanya sih. Tapi, itu cuma contoh dari aku, tentang faktor yg benar-benar berpengaruh pada hidupku, yaitu izin dan saran dari ortu. Tiap orang faktornya pasti beda-beda.

From now on, I'll keep on thinking about my future. I might not be ready, but still, I won't miss any chance. Aku ingin cari banyak pengalaman dari nol dan memanfaatkan ilmu yang selama ini aku punya, meskipun belum banyak. Aku ingin ngerasain lagi enaknya berusaha keras untuk mencapai sesuatu. But don't you ever forget, don't give up praying, God always knows. Ask Him gently. Keep in your mind, we, humans, are changing. What it's hateful to you, could be what you really love one day :
"But perhaps you hate a thing and it is good for you ; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you don't know" (Q.S Al-Baqarah 216)

That was based on my personal story. I've been spending most of my time doing what I want, but aimless. I was hardly knew what's my goal. What I know is 'I just want to be free like a brat, forever'. Even those 'freedom' has it's own limit. Fight for your goal, survive for your own goodness!

May Allah return us with the happiness and blessings. Aamiin :)

0 comments:

Post a Comment